Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

From French Movie

26 Oktober 2021
“Chika .. brenti dulu donk nonton filmnya ..” tegur mama. Yang ditegur malah diem aja, ngga nyahut sama sekali. “Eh Chika, telinga elo sakit ya?  Elo ngga denger apa kata-kata mama?” kak Ardy pun jadi ikut-ikutan ngomel. “Aduh.. kak Ardy nnga liat ya kalo Chika lagi nonton TV? Bentar ya, ma. Habis gini abis kok.” Sahut Chika tanpa berpaling sedikitpun dari layar TV.
Mama menyerah. Kak Ardy pun merasa ngga perlu ngingetin adik tersayangnya itu. “Dia kan sudah besar” pikirnya.

                Itulah Joseline Chika. Siswa kelas 3 SMA di SMA  Dian Harapan, Tangerang.  Kecintaannya terhadap film Prancis tidak pernah pudar. “Daripada ngleatin wajah lokal!” katanya setiap kali ditanya alasan mengapa ia sangat menyukai film Prancis. Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, tapi Chika juga sangat memimoikan akan pergi ke sana dengan terhormat. Hobinya yang satu ini, bener-bener membuat orang kadang keki. Kadang dia bisa lupa dengan tugas-tugas yang semestinya dijadikan prioritas. “Anak muda, mau gimana lagi ..” pikir mama.
                “Ma .. udah slesai kok filmnya ..” kata-kata Chika membuyarkan lamunan mamanya.
Mamanya hanya tersenyum simpul, “jangan lupa PRnya ya dek ..” tambah mama. “Iya ma”. Jawab Chika menurut.

                Mengatakan akan mengerjakan PR pada mamanya bukanlah hal yang berat, karena emang itu udah kewajiban buat Chika sebagai murid. Tapi yang ia hadapi sekarang adalah PR matematika. Sepanjang sejarah, Chika memang paling tidak suka dengan pelajaran matematika. Sebenarnya bukan pada pelajarannya, tapi pada gurunya. Entah mengapa ia selalu beranggapan bahwa guru matematika selalu killer, membosankan, nyebelin, kaku, ngga bisa diajak kompromi, dan semua yang menyebalkan.  Dan memang tidak dapat dipungkiri, kali ini pendapatnya tepat. Guru matematika untuk kelas 3 SMA ini sangatlah menyebalkan. Kepalanya botak, berkumis, dan berkacamata. “Penampilannya aja udah ngebuat eneg. Apalagi kalo dia udah ngajar” piker Chika saat pertamakali bertemu denga gurunya itu di awal tahun pelajaran. Dan tentu saja, hal ini sangat berpengaruh pada pelajaran yang diberikannya.

“PR yang membosankan!” batinnya. Dengan sekejab, kepalanya sudah dipenuhi dengan rumus-rumus yang menurut Chika bisa membuat dirinya Hidrosefalus mendadak. “Siapa sih yang menciptakan rumus-rumus rumit gini? Siapa sih yang peduli dengan pelajaran integtral? Apa sih asyiknya ngitung integrasi parsial, subtitusi trigonometri, dan teman-temannya?” pertanyaan menyebalkan itu terus berkelebat di benaknya.  Perasaan sebal tentang  gurunya pun mulai muncul. Akhirnya, ia lebih memilih berbaring di tempat tidur daripada bergulat dengan soal yang dianggapnya gila tersebut.

“Dengan berbaring, aku jadi lebih rileks..”  kataku pada diriku sendiri. Pikiranku sendiri sudah sibuk melayang-layang.  Aku, yang merupakan penggemar film Perancis, sangat tertarik terhadap Perancis. Ingin sekali aku menginjakkan kaki di negara itu dengan terhormat. Tapi kenyataan yang harus aku lalui adalah meskipun IQ-ku masih memadahi dan menguasai bahasa Inggris yang sering tidak dimengerti orang Perancis, tapi di segi material semua mimpiku untuk menginjakkan kakiku ke Perancis hanyalah sebuah mimpi belaka. Kini, aku hanya menelan ludahku sendiri.

27 Oktober 2021
“Chik, lo kan pecinta film Pracincis nih. Lo tertarik ngga kalo ikut kursus bahasa  Prancis selama 2 minggu? Yang ngajar sih emang orang sana, tapi dia juga bisa bahasa Inggris kok, ngga kayak orang Prancis biasanya. Kan lo fasih banget ngomong bahasa Inggrisnya.  Lumayan kan kalo elo ikutan?” celoteh Sisca pagi itu. Ia benar-benar seperti seorang sales yang profesional.
“Yah, gue sih tertarik sih kalo ikutan kegiatan kayak begituan …. Tapi masalahnya ..” Chika menggantungkan kalimatnya sambil nyengir dipaksain. “Hahaha… emang tetep ya elo. Tenang aja deh elo. Bokap gue udah nyiapin semua. Bokap gue kagum banget sama elo, jadi dia mau bantuin lo supaya seenggaknya elo ngga cumin nonton film Prancis. Elo ngga mau nyia-nyiain tawaran bokap gue kan?” kata Sisca dengan sedikit memohon. Aku hanya bisa mengangguk mantap dan tersenyum senang.

                Seharian pelajaran Chika tak banyak berbicara. Ia hanya berbicara seperlunya. Bahkan saat si killer matematika, Pak  Budi datangpun, Chika sama sekali tidak menampakkan wajahnya yang sangat kesal, seperti yang ia lakukan ketika ada pelajaran matematika dan gurunya yang sangat menyebalkan. Pikirannya sibuk melayang. Wajahnya berseri-seri membayangkan keberuntungan yang ia dapatkan hari itu. Meskipun memang belum tentu ia dapat menjejakkan kaki di Perancis, tapi setidaknya ia masih bisa mempelajari bahasanya. Senangnya!

30 Oktober 2021
Chika bangun dengan perasaan yang meluap-luap karena hari itulah saat ia akan mempelajari bahasa Perancis. Ia merasa benar-benar merasa beruntung.

Di tempat kursus, ada sekitar 50 orang lebih yang lalu di pecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih sedikit. Kursus itu sangat mengasyikkan. Selama dua minggu ia akan meninggalkan sekolahnya dan tentu saja dengan surat ijin.


13 November 2021
                Merupakan hari terakhir Chika dalam kursus yang dijalaninya. Perasaannya bercampur-aduk. Senang, bangga, dan banyak lagi yang tak dapat disampaikan dengan kata-kata.
Chika juga senang, karena selain ia sudah mengerti sedikit tentang bahasa Perancis, ternyata pronounsationnya dalam berbahasa Inggris juga patut diacungi jempol. “Sebenarnya, dalam segi bahasa kamu sudah bisa terjun dalam dunia Eropa. Tapi sayang, mungkin usiamu yang terpaut muda dan belum berpengalaman  masih kurang mendukung.” Ujar Mrs. Darrell dengan bahasa Indonesia yang patah-patah. Aku hanya bisa tersenyum.
                “Saya harap, kamu tidak menyi-nyiakan kelebihanmu ini. Mungkin saja, kamu memang berpotensi untuk tinggal di Perancis.” Tambah Mrs. Darrell.

14 November 2021
Tak banyak yang bisa dilakukan Chika hari ini. Ia hanya berhutang cerita seputar pengalamannya selama 2 minggu dan yang tak kalah penting adalah mengejar pelajaran sekolah yang sudah ia tinggalkan selama 2 minggu terakhir. Emang gampang sih kalo cuman ngejar gitu aja, tapi yang buat keki adalah kalo bentar lagi Ujian Nasional. Ngga bisa terlalu banyak cingcong, ngga bisa hange out, dan hanya bisa fokus ama pelajaran. Emang nyebelin sih.. tapi kalo udah kewajiban ya mau gimana lagi ..

21 November 2021
“Lo ada planning kuliah dimana, Chik?” suaranya berdesir di telingaku. Diko! batinku Kukira ini hanya fatamorgana saja, karena kebetulan siang ini panas banget. Belum lagi konsentrasi belajarku yang mungkin terlalu tinggi sehingga agak pangling. Tapi ternyata ngga. Yang berdiri di sebelahku emang  Diko, kapten tim basket SMA Dian Harapan, Tangerang, kelas XII. “Umm, yang pastinya sih UI.” Ujarku sok enjoy plus sok tenang. “OoO, gitu tow ..” jawabnya tanpa memandangku. Keki juga sih, masa yang diajak ngomong ngga dileatin.

“Emang lo sendiri mo kuliah dimana?” tanyaku memecah kesunyian. “Ya pastinya UI juga. Emang lo mo ngambil program stidi apaan, Chik?”  tanyanya dengan penasaran. Kali ini ia memandangi wajahku. Tak urung wajahku memanas. Belom lagi ketika ia menyeret kursinya ke depanku. “Ya .. HI” jawabku. “Lo sendiri ambil program studi apa, Dik?” “Program studi FIB UI. Ya, Ilmu Sejarah gitu. Tapi naungannya FIB.” Jawabnya.

Lama kami saling berdiam diri. Akhirnya aku yang beranjak keluar kelas. “Sorry Ko .. Gue harus keluar bentar” akhirnya kukatakan hal itu. “Bentar Chik. Ada yang perlu gue omongin ke elo” Kata Diko dengan wajah bersemu merah.

4 Tahun Kemudian ..
Comment? Que faites-vous prêt à travailler à l'ambassade de France?” tanya Mr. Clark Arrnet Bonamy.

Ya. Inilah aku. Joseline Chika.  Yang dulu hanya seorang siswa SMA yang suka film Perancis. Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Dengan impian menginjakkan kai ke Perancis dengan terhormat. Tapi kini ia disini. Bukan hanya dengan terhormat, tetapi juga sangat membanggakan. Bekerja di kedutaan. Menjalin relasi antara Indonesia-Perancis dan sebaliknya.
Suatu hal yang sama sekali tidak pernah dibayangkan bahan disangkalnya ketika SMA hanya karena urusan modal.




                                   .. The starting point of all success is a desire and a dream ..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebelum Terlambat

Aldo terduduk di balkon kamarnya di Aussie. Ia sedang melanjutkan studinya. Satu hal terbesit di benaknya.  Hal yang sebenarnya sangat ingin dilupakan tetapi ia tak bisa dan memang tak boleh.


10 Tahun yang lalu ..
“Mamii, Aldo ngga ke sekolah ya ma. Males ni ..” teriak Aldo dari kamarnya yang berada di lantai 2.  “Aldo turun sekarang, jangan buang-buang waktu! Emang uang sekolah kamu nyarinya gampang apa? Emang papa nyari uang nyabut daun? Gitu?” teriak papanya tak kalah keras. Dengan langkah terseok-seok Aldo turun ke bawah untuk menyantap sarapannya. Dan tentu saja, melawan keinginannya untuk membolos. Mamanya hanya bisa diam tanpa kata seraya menyiapkan sarapan, sedangkan papanya hanya bisa memandanginya dengan pandangan penuh melecehkan.

Itulah Aldo. Anak tunggal seorang pengusaha yang sangat mapan. Masih kelas 6 SD. Tapi sayang, kelakuannya selama ini sangat mengecewakan. Karena selain sangat melenceng dari ajaran kedua orangutanya, Aldo yang diharapkan dapat meneruskan perusahaan papanya tidak dapat menunjukkan prestasi yang memuaskan. Dan tentu daja ini sangat mengecewakan.

“Kenapa sih, mama sama papa tu ngga pernah ngerti situasi yang lagi dialami sama Aldo? Papa sama mama tu kenapa sih ngga pernah seneng kalo Aldo seneng? Aldo kepengen mbolos ato ngga kan terserah Aldo. Ini kan hidup-hidup Aldo. Kenapa harus kalian atur sih?”kata Aldo dengan kesal. Mamanya hanya diam, papanya membuka mulut, dan berkata :”Kalo hidupmu udah ngga mau papa mama atur, kamu bisa pergi ke hutan. Di sana ngga bakalan ada yang namanya aturan. Kamu bisa mbolos sekolah, bisa teriak-teriak, bisa seenakmu, dan ngga perlu nurutin sapa-sapa kecuali nurutin kata hatimu.” Aldo yang diserang kata-kata yang tentu saja merupakan skak mat bagi Aldo. Ia terdiamdan dengan hati yang kesal, ia melakukan apa yang diinginkan oleh kedua orangtuanya.

“Woii Aldo! Lo perhatiin donk tu guru nyerocos! Masa dari tadi elo cuekin aja tu guru. Elo nyatet aja kagak .. Parah banget sih lo..”  kata Susan setengah berbisik. “Cerewet banget sih lo! Tutup mulutmu dan jangan ngatur gue. Lo ngga punya hak untuk itu!” jawab Aldo tanpa memperhatikan volumenya. Otomatis peluru hitam andalan guru alias penghapus blackboard melayang ke arahnya.

“Aldo, saya sudah bilang berkali-kali. Jangan berbicara selain yang berkaitan dengan IPA. Ujian Nasional sudah dekat. Tidak ada waktu untuk main-main. Mengerti kamu?” ujar Pak Robert. Aldo hanya mengangguk pelan tanpa memandang Pak Robert sedikipun. Memang kurang ajar sifat Aldo, tapi dia juga penakut. Jago kandang.



Sementara itu di Rumah Sakit Umum Bhayangkara Manado ..
“Memang sudah tak bisa disangkal lagi. Berdasarkan cek kesehatan yang sudah seperti dilakukan, hasilnya ada yang berbeda” kata dr. Yonathan. “Maksud dokter?” tanya Pak Joseph, papa Aldo.  Si dokter mendesah, lalu melanjutkan perkataannya yang sempat disela oleh Pak Joseph,  “ya.. Ny. Anne, istri anda telah mengidap penyakit leukemia mielositik akut. Penyebabnya bisa mungkin dari radiasi, atau bahkan herediter.” Pak Joseph hanya mematung di tempat duduknya. Sedangkan Bu Anne hanya tersenyum. “Kalau begitu, kami pulang dulu. Masalah terapinya, nanti kita bicarakab. Terimakasih, Dok” kata Bu Anne seraya cepat-cepat menarik lengan suaminya yang masih tidak percaya.

“Udahlah pa. Kalau memang harus begini ya sudahlah. Sudah kehendak Tuhan” kata Bu. Anne ketika di mobil. “Mudah saja bilang begitu. Tapi yang ditinggalkan itu low” sahut Pak Joseph. Istrinya hanya tersenyum mendengarkan kata-kata suaminya. “Semua orang toh akan meninggal kan” 

Kini, yang ada di pikiran Bu Anne hanyalah satu, Aldo! Ia sibuk berfikir. Apakah ia memang harus memberitahukannya pada Aldo, atau malah tidak memberitahukan hal ini. Akhirnya setelah berunding dengan suaminya dan memikirkan segala resiko yang akan terjadi, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan atas apapun yang sudah terjadi.

Tak lama kemudian, Aldo pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk benar-benar menurut. Membereskan barang-barangnya, berganti pakaian, cuci tangan cuci kaki, lalu makan siang dengan benar-benar tahu aturan. Di sela-sela acara makan siang itu, Aldo merasa mengantuk mendengarkan ocehan mamanya. “Aldo, mama cuman minta ke kamu. Tolong nilai kamu di atas 85 semua. Makasih, Nak”  Itu merupakan kalimat yang selalu diutarakan oleh kedua orangtuanya.
                 
            Besok  ada ulangan matematika. Lalu 2 hari selanjutnya ada ulangan IPA. Dan masih banyak lagi ulangan-ulangan lain. Tapi dasar Aldo yang malas, akhirnya ia sama sekali tidak menghiraukan pola belajarnya. Ia hanya terfokus pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.

Satu demi satu ulangan harian dibagikan. Hasil yang dibagikan tentu saja setimpal dengan jerih payah tiap orang. Aldo yang sama sekali tidak belajar juga mendapatkan nilai yang setimpal. Mamanya hanya bisa diam, sedangkan papanya marah berkepanjangan. Tapi akhirnya Aldo berjanji akan memberikan hasil yang maksimal untuk nilai ujiannya.

Ujian Nasional sudah dekat. Kali ini Aldo ngga mau main-main. Bagi Aldo ini hidup dan matinya. Ia juga teringat dengan janjinya. Dan yang pasti, Aldo akan menepati janjinya.

Pengumuman  kelulusan sudah dikumandangkan. SD Aldo lulus 100%, dan Aldo merupakan the best of the best di sekolahnya. Ia mendapatkan nilai yang sempurna. Maksudnya hampir sempurna. Ia mendapatkan nila 9,75 kecuali matematika. Ia mendapatkan skor 8,50.  Dengan girang ia pulang kerumah.

Di depan rumah, ia melihat banyak orang di dalam rumahnya. “Mungkin temen papa” batinnya. Tapi tak lama kemudian terdengar isakkan. Perasaan tak nyaman menghinggapinya. Beberapa orang menunjuk kearahnya. Papanya pun segera keluar. Matanya sembab. Lalu ia menuntun Aldo ke dalam.

Begitu sampai di dalam, Aldo terpaku. “Oh no!” batinnya. “Mamaaaaaaa .. mama jangan pergi ninggalin Aldo dulu.. ini ma, Aldo uda nepatin janjinya Aldo…. Apa artinya semua ini kalo mama usa ngga ada …. Ini ngga berarti buat Aldo…. Yang berarti buat Aldo tu mama.” Katanya histeris. “Aldo tau mestinya uda sejak dulu Aldo ngebuat mama seneng. Tapi Aldo telat ma… telat…. Maafin Aldo ma…”


Sekarang ..
Aldo tersadar dari lamunannya, Ia segera bangkit, lalu mengambil diarynya. Di halaman pertama tertulis:

Berikanlah yang terbaik bagi orang lain ..
sebelum semua itu terlambat  ..
Berikanlah yang terbaik bagi orang lain ..
karena mungkin saja itu adalah terakhirkalinya kau bertemu dengannya ..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Welc0me to My Blogg ..

Hi Guys ..
Selamat datang di bloggku ..

di sini, aku bakalan nuangin inspirasiku melalui cerpen
mulai dari hal-hal yang menyenangkan, menegangkan, meyedihkan, dan lain-lain
emang ngga bakalan seperti  pengarang yang udah bener-bener patut diacungi jempol ....
Tapi, 
Selamat membaca!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS